gemuk is desire

October 21, 2006

Zakat dan Semangat Pembebasan

Filed under: Essays

Zakat dan Semangat Pembebasan

Pergerakan manusia bersama ruang dan waktu telah membawanya pada proses perubahan yang terus-menerus dan tanpa henti, seakan-akan tidak ada yang benar-benar mapan hari ini, semangat perubahan telah membuat manusia untuk menempatkan dirinya se-mutakhir mungkin dalam menyongsong kehidupannya. Realitas sosial yang terus berkembang telah banyak menyisakan berbagai macam pertanyaan pada institusi-institusi yang selama ini telah memapankan tatanan ideologisnya, seperti halnya institusi keluarga, politik, negara, masyarakat bahkan agama. Institusi ideologis yang benar-benar merasakan dampak dari semangat perubahan ini adalah agama.

Berbagai macam realitas sosial yang muncul akhir-akhir ini telah membuat agama merasa terpojok dan kebingungan dalam menentukan sikapnya, sebab persoalan-persoalan yang ada seperti halnya krisis nuklir, bencana kelaparan, persoalan pendidikan, korupsi, pencemaran kabut asap, pendidikan murah dan lain sebagainya adalah permasalahan-permasalah baru yang membutuhkan penanganan secara riil dan komprehensif, sedangkan agama selama ini hanya mampu berbicara pada level-level etis-epistemologis, sebab dirinya selalu terkait dengan patokan-patokan normativitas yang selama ini dijadikan acuan untuk meneropong realitas, sedangkan berbagai macam realitas soial dan permasalahanya susah ditemukan padanan solusinya pada patokan-patokan normativitas tersebut.

Maka, kemudian munculah berbagai macam wacana yang berupaya untuk menggandengkan agama dengan berbagai macam persoalan yang sedang berkembang saat ini, seprti munculnya wacana-wacana Islam dan IPTEK, Islam dan Politik, Islam dan Pendidikan, Islam dan tantangan kapitalisme global, Islam dan Pembebasan dan lain sebagainya. Tetapi, apakah sesederhana itu untuk memberikan solusi atas permasalahan umat yang terus berkembang? Bagaimana Islam sebagai agama mampu menjawab realitas umat yang makin beragam ini? Apakah agama akan terus-menerus bersembunyi dibalik doktrin-doktrin teologisnya?

Islam dan Pembebasan

Islam muncul sebagai sebuah agama tidaklah datang dengan tiba-tiba dan lepas dari ruang dan waktu, keberadaan islam sebagai sebuah tatanan ideologi adalah merupakan sebuah respon atas realitas yang berkembang saat itu. Banyak sekali persoalan yang melandasi kemunculan Islam di Arab waktu itu. Kondisi masyarakat Arab yang sedemikian rupa dengan berbagai macam suku memunculkan banyak permasalahan karena sering terjadi kanibalisme antar suku-suku yang ada hanya karena persoalan-persoalan sentiment kesukuan dan batas geografis. Selain itu, dalam tatanan sosial masyarakatnya juga sangat memprihatinkan, adanya perlakuan tidak layak terhadap perempuan yang hanya menempatkannya pada wilayah suboirdinat, sampai-sampai karena malunya mempunyai anak perempuan, banyak orang-orang Arab waktu itu yang mengubur bayinya hidup-hidup jika berkelamin perempuan. Ketidakadilan itu juga berlaku pada kaum budak yang mereka anggap manusia rendah dan disamakan dengan binatang dan harta benda, sehingga jual-beli budak sangat marak waktu itu. Belum lagi adanya sentralisasi kekayaan pada segelintir orang tertentu sehingga menyebabkan ketimpangan ekonomi yang sangat mencolok yang akhirnya banyak menciptakan masyarakat-masyarakat miskin baru di dunia Arab. Beberapa ketimpangan tersebut akhirnya memperburuk umat menjadi bangsa yang miskin baik dari sisi materiil maupun spiritual.

Dengan latar belakanbg kondisi umat yang semacam inilah Muhammad datang dengan membawa risalah Islam. Banyaknya persoalan yang melingkupi masyarakat Arab waktu itu akhirnya membentuk pribadi Muhammad yang empati dan penuh welas asih untuk mengabdikan dirinya bagi kepentingan orang banyak dengan usahanya untuk merubah tatanan sosial yang ada (khoiru an-Nas anfauhum linnas). Maka dengan sedikit demi sedikit ketimpangan yang terjadi pada masyarakat Arab mulai terbebaskan, perempuan dan budak yang dulunya dianggap sebagai manusia nomor dua -atau bahkan tidak dianggap sebagai manusia- telah disejajarkan, sebab dalam islam tidak mengenal pembedaan antar laki-laki/perempuan, kaya/miskin, tuan/budak, tiap-tiap manusia adalah sama, yang membedakan antara mereka hanyalah nilai ketakwaan di mata Allah SWT (QS. 49:13). Kemudian untuk mencipatakan sebuah tatanan ekonomi yang merata, islam menganjurkan umatnya untuk melakukan distribusi kekayaan dengan menunaikan zakat (QS 9:60). Hal ini adalah sebuah upaya untuk melakukan pemerataan sistem ekonomi pada semua khalayak sehingga tidak memunculkan sentralisasi ekonomi pada segelintir orang saja, sentralisasi ekonomi ini kalau dibiarkan terus-menerus maka akan memunculkan sistem imperialisme baru seperti yang saat ini sedang mengincar negara-negara di dunia ketiga yaitu Neo-Liberalisme.

Sehingga sangatlah jelas misi pembebasan yang dilakukan dalam awal kemunculannya sebagai tatanan ideologi baru. Semangat pembebasan inilah yang terus harus digaungkan sebagai upaya untuk tetap mendidik umat tidak hanya sebagai seseorang yang kritis terhadap realitas dan persoalannya, akan tetapi juga melakukan perubahan terhadap kondisi tersebut. Persoalan penindasan perempuan yang terjadi saat ini harus diperangi berdasarkan landasan teologi pembebasan tersebut, begitu juga dengan sistem perbudakan yang saat ini menunjukan wajah barunya pada model-model korporasi yang dilakukan oleh para pengusaha-pengusaha terhadap buruh-buruh yang bekerja di pabrik-pabriknya. Sistem pemerataan ekonomi yang terwakilkan dalam bentuk zakatpun adalah sebuah usaha pembebasan yang ingin dilakukan terhadap delapan golongan yang merupakan golongan masyarakat yang berhak menerima zakat (mustahiq zakat) yaitu; orang fakir (Fuqara)), orang miskin (masakin), amil zakat (‘amilin), orang yang baru masuk islam (muallaf), orang yang memerdekakan budak (riqab), orang yang berhutang (Gharimin), orang yang berjuang di jalan Allah (Fi sabilillah), dan orang yang sedang dalam perjalanan (Ibnu Sabil).

Zakat Sebagai Alat Pembebasan

Berdasarkan landasan normativ-teologis yang tertera pada surat at-Taubah ayat 60 tentang kategori orang-orang yang berhak menerima zakat tersebut kita bisa tahu bahwasanya zakat memang benar-benar dilakukan untuk membebaskan kaum-kaum yang termarjinalkan. Berbagai macam persoalan kebangsaan yang akhir-akhir ini banyak melanda kita telah menciptakan orang-orang fakir dan miskin baru. Persoalan kemiskinan ini selalu menjadi agenda pada tiap-tiap pemerintahan yang terbentuk, mulai dari zaman orde baru hingga orde yang paling baru, akan tetapi persoalan kemiskinan selalu meninggalkan tanda tanya besar, kapan hal itu dapat diselesaikan?.

Kemiskinan yang terjadi di Negara ini bukan hanya sebuah kemiskinan yang berdasar karena nasib, tapi juga kemiskinan yang berakibat dari struktur. Struktur perekonomian yang hanya berpusat pada segelintir orang telah memaksa masyarakat untuk berebut rupiah yang sudah tidak seberapa lagi, sebab sebagian besar telah dikangkangi orang-orang yang menumpuk hartanya untuk kelangsungan hidupnya dan tujuh turunannya-bandingkan dengan kondisi masyarakat sebelum datangnbya islam-. Negara sebagai pemangku kebijakan tidak dapat berbuat apa-apa, sebab ia juga telah menjadi kaki tangan atas sentralisasi perekonomian tersebut.

Wajah bangsa ini menjadi semakin terlihat bopeng ketika menyaksikan operasionalisasi pendidikan yang selalu amburadul, pergantian kurikululm tiap pergantian rezim, biaya sekolah yang mahal, output opendidikan yang rendah, kualitas pengajar yang tidak representative dan sederet persoalan lain menambah daftar panjang persoalan pendidikan di Negara kita ini. Yang paling mencolok dan menyisakan banyak tenaga adalah mahalnya biaya seseorang untuk mengenyam pendidikan, hal ini jugalah yang akhirnya menghambat perkembangan sumber daya manusia bangsa ini. Bangsa yang sudah miskin, malah ditambah dengan biaya sekolah yang mahal, kapan rakyatnya bisa maju? Padahal untuk menciptakan sumber daya manusia yang mumpuni adalah lewat pendidikam!

Saat ini orang-orang yang tergolong miskin lebih mementingkan menghidupi keluarganya agar tidak kelaparan daripada menghabiskan duitnya untuk menyekolahkan anaknya. Maka akhirnya menjadi sebuah hal yang biasa jika banyak anak-anak usia sekolah dari keluarga miskin yang putus sekolah dan lebih memilih untuk mencari kerja, sebab mereka tidak mempunyai biaya lagi untuk melanjutkan sekoah.

Tantangan-tantangan seperti inilah yang harusnya direspon oleh umat islam, landasan normative-teologis yang sudah ada tersebut harus mampu berbincang dengan realitas dunia pendidikan. Zakat adalah sebuah alasan tepat untuk menjadikannya sebagai alat untuk membebaskan anak-anak usia sekolah yang tidak mampu secara finansial. Zakat tidak harus dimaknai secara tekstual dengan menyumbangkan beras sebanyak 2,5 kg, namun pemaknaan zakat ini juga harus ikut berkembang seiring tuntutan persoalan yang semakin plural, bisa saja kemudian zakat diwujudkan dalam bentuk beasiswa, tabungan belajar, dan hal-hal lain yang menunjang perkembangan pendidikan.

Zayyin Alfi Jihad, S. Fil.I

Researcher pada CSAT (Center Of Social Analysis and Transformation)

E-Mail : zayyinjihad@yahoo.com / wadagjagad@plasa.com

Telp : 081 5795 3366






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham