<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress/1.5.1-alpha" -->
<rss version="2.0" 
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
<channel>
	<title>Comments on: Zakat dan Semangat Pembebasan</title>
	<link>http://dulgemuk.blogsome.com/2006/10/21/zakat-dan-semangat-pembebasan/</link>
	<description>Just another WordPress weblog</description>
	<pubDate>Sun, 29 Nov 2009 20:13:25 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=1.5.1-alpha</generator>

	<item>
		<title>by: Iqbal al_Imam</title>
		<link>http://dulgemuk.blogsome.com/2006/10/21/zakat-dan-semangat-pembebasan/#comment-2</link>
		<pubDate>Tue, 31 Oct 2006 04:39:37 +0000</pubDate>
		<guid>http://dulgemuk.blogsome.com/2006/10/21/zakat-dan-semangat-pembebasan/#comment-2</guid>
					<description>Islam memang tidak mengenal perbedaan antara kaya dan miskin, hitam dan putih dan seterusnya. Akan tetapi, &quot;ketidak-kenalan&quot; Islam terhadap perbedaan-perbedaan tersebut 'khan' hanya terhadap perbedaan &quot;di hadapan Allah&quot; saja. Sementara pada dasarnya, Islam itu tidak hanya terkait dengan citra, fantasi, dan hasrat ketuhanan an sich, tetapi juga terlibat dalam pergulatan diskursus sosial, budaya dan kesejarahan. Artinya, Islam tetap mengenal &quot;keterbelahan&quot; pada dataran historis, meskipun pada ranah normatif ia mengakui keutuhan eksistensial keberagamaan seperti yang disebutkan dalam tulisan ini.
Nah, pertanyaannya adalah: Misi pembebasan yang diusung Islam selama ini khan hanya menyentuh wilayah yang tidak divided saja. Maka kalau hanya untuk membebaskan yang tidak terbelah, apa gunanya? Zakat sendiri, apakah berfungsi untuk mengutuhkan eksistensi keberagamaan islam ataukah hanya untuk semakin meretakkannya? Bagaimana mungkin zakat akan bersifat membebaskan jika ia diproyeksikan untuk pembebasan yang sifatnya ketuhanan (normatif)?
sekian dulu. selamat idul fitri.
NB: Kok zakatnya tidak dibayarkan ke saya saja. Itung-itung untuk pembebasan dari kelaparan... hehehehehehe.</description>
		<content:encoded><![CDATA[	<p>Islam memang tidak mengenal perbedaan antara kaya dan miskin, hitam dan putih dan seterusnya. Akan tetapi, &#8220;ketidak-kenalan&#8221; Islam terhadap perbedaan-perbedaan tersebut &#8216;khan&#8217; hanya terhadap perbedaan &#8220;di hadapan Allah&#8221; saja. Sementara pada dasarnya, Islam itu tidak hanya terkait dengan citra, fantasi, dan hasrat ketuhanan an sich, tetapi juga terlibat dalam pergulatan diskursus sosial, budaya dan kesejarahan. Artinya, Islam tetap mengenal &#8220;keterbelahan&#8221; pada dataran historis, meskipun pada ranah normatif ia mengakui keutuhan eksistensial keberagamaan seperti yang disebutkan dalam tulisan ini.<br />
Nah, pertanyaannya adalah: Misi pembebasan yang diusung Islam selama ini khan hanya menyentuh wilayah yang tidak divided saja. Maka kalau hanya untuk membebaskan yang tidak terbelah, apa gunanya? Zakat sendiri, apakah berfungsi untuk mengutuhkan eksistensi keberagamaan islam ataukah hanya untuk semakin meretakkannya? Bagaimana mungkin zakat akan bersifat membebaskan jika ia diproyeksikan untuk pembebasan yang sifatnya ketuhanan (normatif)?<br />
sekian dulu. selamat idul fitri.<br />
NB: Kok zakatnya tidak dibayarkan ke saya saja. Itung-itung untuk pembebasan dari kelaparan&#8230; hehehehehehe.
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
</channel>
</rss>
