gemuk is desire

February 17, 2007

Cerita dari Bus Kota

Filed under: Cerpen

CERITA DARI BUS KOTA

Oleh : Zayyin Alfi Jihad

Seperti biasa, pagi ini aku berangkat kerja menggunakan bus yang sama. Sebuah bus yang sebenarnya sudah tidak layak pakai untuk kondisi zaman yang sudah sedemikian maju. Di berbagai negara lain, bus-bus seperti ini sudah mulai dimuseumkan dan hanya dijadikan besi-besi daur ulang. Tapi di negeriku yang katanya makmur ini, bus yang seharusnya sudah istirahat, dipaksa untuk terus memacu mesin tuanya guna mengumpulkan lembaran-lembaran rupiah bagi pemiliknya. Asap knalpotnya yang pekat telah menelan kesejukan pagi, seiring raungan mesin yang terus memburu. Orang-orang yang berpapasan dengan bus ini pasti akan menutup hidung dan menghindari asap yang makin menggumpal.

Pagi ini suasana terlihat masih sangat lengang. Jam ditanganku baru menunjukan pukul 6.30 WIB. Toko-toko masih merapatkan pintunya, hanya papan nama yang terlihat gagah menghiasi ruang pandang kota yang semakin sempit. Tidak ada lagi pemandangan hijau di kota ini. Pohon-pohon yang dulu menyejukan pandangan, sekarang digantikan dengan cagak-cagak iklan yang bersaing untuk menjadi yang terbesar dan termegah.

Papan nama dan iklan yang semakin banyak telah meninggalkan sampah visual yang cukup meresahkan. Peraturan daerah yang diharapkan mengatur penempatan iklan dan papan nama, ternyata hanya diam dengan mengalirnya pundi-pundi rupiah di tangan mereka.

Hah……kota ini semakin sesak dijejali dengan pemandangan-pemandangan yang berbau konsumtif. Di setiap ruas jalan maupun gang, yang kulihat adalah ajakan-ajakan untuk berbelanja. “Beli satu dapat Dua”, “Diskon Gede-gedean”, “Cuci Gudang” dan masih banyak lagi model promosi yang ditawarkan untuk membius masyarakat menjadi sophaholic.

“Klaten-Solo…Klaten-Solo….kosong…kosong…” Terdengar teriakan kenek bus berusaha menambah jumlah penumpang yang masih sangat minim. Teriakan-teriakan itu dibarengi dengan bunyi klakson sopir yang tak mau kalah, berkali-kali dia membunyikan klakson untuk menghalau sepeda motor yang berseliweran di depannya. Maklumlah, kalau pagi begini banyak sepeda motor yang berseliweran menuju arah Klaten dan Solo. Mereka adalah para pekerja-pekerja dari Yogyakarta yang berkantor di Klaten maupun Solo. Klakson sang Sopir seakan berkata ”Hai aku mau lewat, berani benar kalian mendahului yang lebih besar, kulindas mati kau”.

“Ah… ternyata mobil dan manusia sama saja. Siapa yang besar dan berkuasa selalu ingin menang sendiri dan semena-mena terhadap yang lebih lemah” gerutuku dalam hati. Tapi hal ini menguntungkan aku juga, sebab dengan begitu bus bisa melaju cepat dan mengantarku sampai kantor lebih pagi. Hingga masih ada sedikit waktu bagiku untuk menikmati secangkir kopi pahit dan sebatang rokok kretek kesukaanku.

Lamunanku buyar seketika, kulihat penumpang di depanku berdiri dan marah-marah kepada sopir. Sang sopir pun tak paham apa yang dia bicarakan, sebab orang itu adalah turis. Kalau kuperhatikan, sepertinya dia bukan turis Eropa, melainkan seorang turis dari Timur Tengah. Lama dia berteriak-teriak pada sopir. Sopir bus pun hanya terbengong-bengong, sebab dia tidak mengerti apa yang disoalkan turis tersebut. Dengan menggerutu dan wajah yang bersungut-sungut, turis itu pun kembali duduk ke bangkunya. Setelah dia duduk, kuberanikan diri untuk mendekatinya dan bertanya. Awalnya kuajak dia berbicara dengan bahasa Inggris, walaupun bahasa inggrisku agak kacau. Untungnya dia tidak bisa, kemudian dia sebut-sebut kata arab. Kemudian aku tahu bahwa turis ini berasal dari Arab Saudi. Lalu aku beranikan mencoba menyapanya dengan bahasa Arab. Dan terjadilah sedikit percakapan dengannya. Kutanyakan perihal tadi dia marah-marah kepada sopir bus.

“Maaf, tadi saya marah karena sopir terlalu berisik dengan klaksonnya” orang arab ini memulai pembicaraan.

“Saya harus istirahat, sebab setibanya di solo saya harus presentasi perkuliahan” lanjutnya. Dari keterangannya kutahu ternyata dia adalah mahasiswa tamu pada salah satu universitas swasta di Solo.

“O.. begitu” jawabku

Kemudian aku terangkan sedikit bagaimana kondisi transportasi antara Solo-Yogyakarta pada pagi hari. Dengan berbagai alasan dan bahasa yang kadang-kadang bercampur isyarat, dia mulai memahami apa yang kumaksudkan. Lalu aku menjabat tangannya dan kami sama-sama mengucapkan terima kasih.

Setelah itu kudatangi sopir bus ”Bos, sorry sebelumnya” kusapa dia dengan panggilan bos. Aku biasa menggunakan kata Bos untuk menghormati orang-orang yang belum kukenal.

Kulanjutkan omonganku “Turis itu merasa terganggu dengan klakson sampeyan, sebab dia pengin istirahat sebelum tiba di Solo”

“O… begitu to mas! Lha saya juga ndak tahu je, wong bahasanya saja ndak bisa difahami. Oke kalau begitu mas, bunyi klakson akan saya kurangi, karena jumlah motor yang berseliweran juga tidak sepadat tadi pagi. Nuwun lho mas…”jawab sang sopir.

“Sama-sama bos” jawabku.

Setelah itu aku kembali menempati kursiku. Bus tetap melaju dengan tenang, walaupun bunyi klakson sesekali masih berbunyi. Kulihat turis yang tadi marah-marah sudah terlihat agak mengantuk dan menyandarkan kepalanya pada kursi mobil. Ditambah lagi dengan alunan musik campursari yang terdengar dari tape yang diputar oleh kenek bus.

Alangkah indahnya jika setiap persoalan bisa diselesaikan dengan cara seperti ini. Komunikasi memang menjadi sarana yang cukup signifikan untuk melakukan dialog pada dua orang yang sedang bersitegang. Seandainya setiap permasalahan yang ada di negeri ini bisa diselesaikan dengan cara tersebut, mungkin tidak perlu muncul tragedi kemanusiaan seperti yang terjadi di Poso, Ambon, Sampit, Aceh dan beberapa daerah lain. Air mata Ibu pertiwi tidak harus menetes di antara ribuan nyawa dan darah yang tumpah akibat pembantaian dan pembunuhan.

Aku mulai membolak-balik buku yang selalu kubawa setiap berangkat kerja. Beberapa kali buku ini telah menyelamatkanku dari kantuk yang tidak tertahan. Sebab dengan adanya buku di tanganku telah memaksa aku untuk terus memelototi setiap huruf yang ada di dalamnya.

Ketika sedang menikmati buku tersebut, tiba-tiba bus berhenti, dan kulihat menaikkan beberapa penumpang. Di antara penumpang-penumpang tersebut, ada salah seorang yang menarik perhatianku. Kulihat dari raut mukanya, orang ini terlihat lebih tua dari umurnya. Wajahnya menyiratkan kelelahan yang tak tertahan. Orang ini terlihat bingung dan mencari-cari kursi yang kosong. Tatapannya kemudian sampai pada kursi di sebelahku yang memang kosong sejak dari tadi. Dengan bergegas dia berjalan menuju ke arahku dan duduk di sampingku.

Kulihat dia terdiam dan masih sibuk membenarkan posisi duduknya. Kemudian dia merogoh sakunya dan mengeluarkan beberapa ribuan untuk diberikan kepada kondektur.

“Klaten Pak”seru orang tersebut pada kondektur.

“Kurang pak, tarifnya sekarang naik menjadi empatribu” jawab kondektur.

Dengan terlihat agak terpaksa dia mengeluarkan satu lembar uang ribuan dan diberikan kepada kondektur. Kondektur itu pun pergi dan meneruskan pekerjaannya dengan meminta karcis pada penumpang-penumpang lain. Kuperhatikan orang ini bepergian dengan sekenanya. Dia hanya mengenakan batik yang sudah kusam, celana yang terlihat bolong di berbagai tempat dan sandal japit yang berlainan. Kulihat matanya menerawang jauh, beberapa kali teriakan para pedagang asongan tak dihiraukan. Feeling-ku mengatakan orang ini sedang didera masalah yang cukup serius.

Tiba-tiba dia bertanya kepadaku ”Saya mau merokok ndak apa-apa tho mas?”

Seketika itu juga kututup bukuku dan kujawab ”Monggo Pak, ndak apa-apa”

Dia keluarkan rokok lintingannya dan korek gas yang mirip dengan milik kakekku dahulu. Kalau melihat rokok lintingannya, orang ini sudah bertahun-tahun menghisap rokok lintingan. Sebab, rokok lintingan yang dibawanya terlihat rapi dan menarik. Beberapa kali dia pilin rokok tersebut dan mulai menyalakannya. Terlihat asap mengepul disampingku dan terbawa angin hingga ke beberapa bangku di depanku. Seorang perempuan muda terbatuk-batuk terkena asap rokok tersebut. Tapi bapak tua ini seakan tak perduli dengan hal itu.

“Saya lagi pusing mas” dia memulai pembicaraan.

“Sudah 22 tahun saya mengadu nasib di Aceh. Di sana saya sudah bisa mendirikan rumah yang lumayan bagus dan mempunyai beberapa hektar kebun sawit. Beberapa keluarga juga sudah saya bawa ke sana untuk ikut membantu mengurus kebun sawit tersebut. Akan tetapi, kerja keras tersebut sirna dalam waktu sekejap. Pada tanggal 26 Desember 2004 yang lalu, keganasan Tsunami telah merenggut semua harta benda yang saya kumpulkan selama ini. Rumah beserta isinya rata dengan tanah. Kebun sawit yang sebelumnya subur, habis terendam oleh ganasnya air laut. Tapi saya masih bersyukur, sebab semua sanak keluarga masih diselamatkan oleh Allah swt.” dia terus bercerita tanpa memandang ke arahku.

Awalnya aku kaget, sebab tanpa kutanya tiba-tiba dia menceritakan kisah hidupnya. Hal ini makin membenarkan dugaanku tadi. Lalu kubiarkan dia terus bercerita tanpa kupenggal sedikit pun. Sambil menikmati rokok lintingannya dia melanjutkan ceritanya.

“Setelah peristiwa Tsunami itu, saya sepakat dengan beberapa keluarga untuk pulang ke tanah kelahiran, yaitu Klaten. Dengan membawa uang dari bantuan rekonstruksi Aceh, kami pun pulang ke Klaten. Di sini kami mendirikan rumah yang sederhana untuk bisa ditempati dan berusaha memulai hidup baru” dia terlihat berhenti sejenak, dan memandang ke arahku.

Sambil menghisap rokoknya, orang ini melanjutkan ceritanya ”Saya pun mulai berdagang kecil-kecilan mas. Hasil kebun yang berupa terong, daun ketela dan kacang panjang saya bawa ke pasar untuk dijual. Pulangnya, saya membeli beberapa sembako untuk dijual pada tetangga sekitar. Alhamdulillah, perekonomian kami mulai membaik. Istri saya pun tidak tinggal diam, di rumah dia membuka toko kelontong kecil-kecilan yang menyediakan keperluan sehari-hari para warga sekitar. Dari hasil berjualan di pasar dan sedikit laba dari toko kelontong istri saya, kami bisa menyekolahkan kembali anak saya yang sempat berhenti sekolah pasca kepindahan kami dari Aceh”

“Di saat mulai menikmati hasil jerih payah kami, tiba-tiba cobaan datang lagi kepada kami. Pada tanggal 27 Mei 2006 lalu, sekitar jam 5.40 WIB tanah bergoyang dengan kencangnya. Rumah yang baru berdiri kurang lebih 2 tahun itu roboh dan rata dengan tanah. Barang-barang kami pun ludes tak karuan“ dia berhenti sejenak dan menghembuskan nafas berat.

“Saya benar-benar marah waktu itu mas, apalagi salah saya hingga tertimpa musibah yang sedemikian berat. Luka hati akibat Tsunami belum juga reda, ditambah dengan datangnya gempa yang telah memporak-porandakan rumah dan harta benda. Saya menganggap Tuhan benar-benar tidak adil pada saya” dia menunduk saat mengakhiri kata-katanya.

Saat dia terlihat diam beberap saat, saya memberanikan diri untuk bertanya kepadanya” Maaf Pak, sekarang bagaimana kondisi keluarga? Tidak ada yang meninggal akibat gempa tersebut?” dengan nada pelan saya ajukan peretanyaan itu.

“Alhamdulillah mas, semua keluarga saya selamat. Akan tetapi, cobaan yang lebih besar adalah yang terjadi sekarang mas” sahut orang tua ini.

Pikirku dalam hati “Musibah apa lagi yang menimpa bapak ini?”

Orang tua ini melanjutkan kisahnya ”Pada awalnya saya sangat gembira dengan lahirnya cucu saya yang pertama. Walaupun harus berada dalam kondisi kekurangan karena gempa, tapi saya merasa sangat bahagia dengan kelahiran tersebut. Akan tetapi hal itu tidak berlangsung lama. Selang beberapa hari setelah kelahiran bayi itu, dia mengalami beberapa keanehan. Mulai dari lahir, bayi ini tidak pernah menangis. Hingga dokter memvonis bahwa cucu saya mengalami pembekuan darah di otaknya” Pandangan matanya kosong.

Sebelum dia meneruskan ceritanya, saya menyela terlebih dahulu ”Lalu cucu bapak sekarang di mana?” tanyaku sedikit berbasa-basi. Sebab sedari tadi aku hanya diam mendengarkan ceritanya

”Karena rumah sakit Klaten tidak mampu menangani penyakit tersebut, lalu saya diberi rujukan untuk membawanya ke sebuah Rumah Sakit di Yogyakarta mas” dia melanjutkan ceritanya.

“Di rumah sakit ini cucu saya langsung ditangani dengan baik. Dia kemudian menjalani operasi untuk mengangkat darah beku di otaknya. Setelah operasi selesai, hati saya terasa plong dengan pecahnya suara tangis cucu saya.” dia sedikit bisa tersenyum walaupun terlihat hambar.

“Tapi kegembiraan itu harus saya tahan mas, sebab biaya operasi cucu saya ternyata menghabiskan dana yang tidak sedikit. Saya harus memutar otak bagaimana caranya untuk membayar biaya operasi yang sedemikian banyak. Rumah akibat gempa saja belum bisa diperbaiki, bagaimana harus membayar biaya operasi ini? Kemudian saya memberanikan diri bertanya pada pihak rumah sakit untuk kemungkinan keringanan biaya rumah sakit, dan alhamdulillah rumah sakit menyetujuinya dengan memberikan beberapa syarat yang harus dipenuhi”

Di sela-sela dia bercerita, tiba-tiba bus berhenti. Naiklah dua orang pengamen jalanan dan menyapa penumpang dengan sapaan yang khas. Lalu mereka mulai memainkan beberapa lagu dari Iwan Fals, Ungu hingga Didi kempot. Kulihat bapak di sampingku ini menikmati alunan gitar para seniman jalanan ini. Dia terlihat manggut-manggut saat pengamen memainkan salah satu lagu dari Didi Kempot yang berjudul Tirtonadi. Selesai dengan lagunya yang terakhir dan mengumpulkan receh dari para penumpang, pengamen itu kemudian turun dari bus kota.

Bapak Tua di sampingku ini kembali melanjutkan kisahnya ”Setelah mendapat kepastian bisa mendapat keringanan, saya kemudian bergegas mengurus surat-surat yang dibutuhkan. Mulai dari RT, Kelurahan, Kecamatan dan sebagainya. Harapan saya, setelah menyerahkan surat-surat tersebut saya bisa segera memboyong pulang cucu saya dari rumah sakit” sesekali dia terlihat menghisap rokoknya.

“Tapi harapan yang saya angankan tidak berjalan mulus mas. Surat yang telah saya urus berhari-hari dan telah mengeluarkan biaya yang lumayan besar itu ditolak oleh pihak rumah sakit. Katanya, ada beberapa berkas yang kurang dan harus dilengkapi secepatnya. Beberapa kali saya harus bolak-balik Yogya-Klaten untuk melengkapi surat-surat tersebut” tersirat wajah yang lelah saat dia mengatakan itu.

“Sampai hari ini mas, saya sudah capek dan pusing mengurus surat keterangan miskin tersebut. Wong mau membuktikan diri jadi orang miskin saja kok susah caranya. Jika surat terakhir ini tidak diterima lagi, saya pasrah mas. Rasanya saya ini kok dipingpong, disuruh kesana dan kesini tidak ada yang benar. Apa sebenarnya maksud pemerintah memberikan biaya keringanan, jika cara mengurusnya saja sudah bikin orang pusing?. Saya sudah ndak sanggup lagi mengurusnya, kalau memang usaha terakhir ini gagal, saya pasrah mau diapakan sama pihak rumnah sakit. Kalau mau dimasukan bui karena tidak bisa melunasi biaya rumah sakit, saya terima. Atau cucu saya mau ditahan di sana ya terserah!” Orang tua ini terlihat sangat pasrah dan putus asa dengan keadaan.

Saya pun hanya bisa diam mendengarkan cerita orang tua ini. Tidak ada sepatah kata pun yang bisa keluar dari mulutku. Baru kali ini aku merasakan pekewuh yang luar biasa. Kata serasa hambar pagi ini. Aku tidak menemukan kata yang cukup pantas untuk menanggapai kisah hidup orang di sampingku ini. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan agar dia tahu bahwa aku pun ikut prihatin dengan keadaannya. Kecerdasan otakku yang selama ini kubanggakan, ternyata tak ada artinya di hadapan orang tua ini. Kebaikan yang selalu kuanggap mampu menyelesaikan setiap persoalan terasa asing setelah mendengarkan cerita orang tua ini. Lama aku tediam tanpa kata, hanya sedikit ekspresi wajah yang bisa kutampakaan kepada orang tua di sampingku ini.

Di tengah kegalauanku yang semakin memuncak, ternyata dia bisa membaca keresahan yang kurasakan, kemudian berkata.

“Jangan merasa ndak enak sama saya mas. Saya bercerita begini bukan maksud untuk meminta pengertian dan belas kasihan dari orang lain. Saya hanya ingin berbagi tentang cerita hidup saya. Tidak ada tanggungjawab moral yang harus sampean rasakan dari cerita saya. Sampean mau mendengarkan cerita ini, saya sudah bersyukur. Sebab, saat ini mencari orang yang mau mendengarkan cerita orang lain saja susah. Orang telah disibukkan dengan kepentingannya sendiri-sendiri, hanya untuk mendengarkan saja dianggap telah menyita waktu”

Selesai dia bicara, terdengar teriakan dari kenek bus. “Pengadilan….Pengadilan….yang turun Pengadilan dekat pintu!” teriakan kenek bus mengakhiri perbincanganku dengan orang tua yang penuh kisah ini. Dengan mengucapkan kata-kata maaf dan dukungan do’a, saya pun berpamitan dengan orang tua ini.

Setelah aku turun, bus kembali melaju kencang membawa kisah seorang tua dengan persoalan yang kian mendera. Aku tak dapat berbuat apa-apa. Semua hanya mampu terekam dalam ingatan yang kian menyiksa. Begitu dekat relitas ketimpangan ini dengan diriku, tapi aku hanya bisa berbasa-basi dan berdo’a. Ah…lagi-lagi hanya berdo’a yang bisa kulakukan. Seberapa ampuhkah do’aku mampu meringankan derita orang tua tadi.

Rutinitasku dalam dunia yang banal kian memojokanku pada dinding-dinding sejarah yang kusam dan kelam. Idealisme yang kuagung-agungkan ternyata hanya bisa menjadi pendengar dikala ketimpangan benar-benar menyapaku. Semangat marxian yang bergemuruh di dadaku selama ini hanya menjadi penonton saat eksploitasi kemiskinan dipertontonkan. Ah….bullshit sekali kehidupanku saat ini.

Sesampainya di kantor, aku kembali menempati meja kerjaku. Kisah orang tua tadi tetap terngiang dalam telingaku. Tak banyak yang bisa kuperbuat, hanya tulisan ini mungkin bisa menjadi penawar kelemahan asaku untuk bisa membantu kesempitan orang lain.

Dengan suara lirih aku berucap “Maafkan aku pak tua….! Hanya dengan coretan yang tak tuntas ini mungkin bisa sedikit mengurangi rasa bersalahku padamu”

Klaten, 15 Februari 2007

Pojok Istilah

Cagak-cagak : Tiang-tiang

Sophaholic : Kecanduan belanja

Je : Imbuhan yang biasa dipakai oleh orang Yogya dan sekitarnya

Nuwun : Singkatan dari Maturnuwun yang berarti terima kasih

Pekewuh : Rasa tidak nyaman

Zayyin Alfi Jihad, S. Fil.I.

Pengamat budaya pada CSAT (Center Of Social Analysis and Transformation)

E-Mail : zayyinjihad@yahoo.com

Telp : 081 5795 3366






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham