Kang Marx, Maafkan Aku …!
Kang Marx, Maafkan Aku …!
Oleh: Zayyin Alfi Jihad
Hari ini hantu Marx bergentayangan mendatangi diriku. Kupikir hanya dia yang datang, ternyata tidak. Dia datang bersama teman dan juga santri-santrinya. Kulihat yang berdiri di belakangnya ada Hegel, Althusser, Weber, Parson, bahkan Tan Malaka juga ikut hadir. Tiba-tiba dengan suara serentak mereka menyebutku sebagai pengecut, pecundang, dan segala macam sumpah serapah ditumpahkan kehadapanku.
Mereka terlihat marah dan kecewa dengan diriku. Aku jadi bertanya-tanya, apa sebenanrnya yang membuat mereka marah. Tiba-Tiba Marx mengawali perbincangan mewakili teman-temannya.
“Hai Dul, berapa lama kau mempelajari pemikiran-pemikiran kami?” Kang Marx mengawali pertanyaannya.
“Ya ….kurang lebih 7 tahun Kang!” jawabku datar.
“Tujuh tahun….” kulihat mukanya terbelalak.
“Iya…” aku kaget melihat perubahan wajahnya.
“Lalu, seberapa sering kamu mengkaji pemikiran-pemikiran kami? Dan bagaimana caranya?” Kang Marx melanjutkan pertanyaannya.
“Wah, kalu masalah itu jangan khawatir Kang” jawabku membanggakan diri.
“Saya sering mengkaji pemikiran-pemikiran njenengan semua lewat diskusi, seminar, kuliah, dan beberapa kajian intensif lainnya” pikirku, pasti mereka bangga karena pemikiran-pemikirannya masih diminati sampai sekarang.
“Berarti kau paham betul apa keinginan kami” Kang Marx mempertegas pertanyaannya.
“Ya begitulah, dari pemikiran njenengan-njenengan, saya bisa tahu bagaimana mengurai struktur perekonomian, membaca kesenjangan, dan yang terpenting bagaimana menumbuhkan sikap perlawanan atas penindasan dan dominasi yang terjadi” aku menjawab dengan bersemangat.
“eh….eh….eh…” kulihat Kang Marx menggelengkan kepala dengan mimik yang susah kumengerti.
“Ada apa Kang?” tanyaku keheranan.
“Kami merasa malu hari ini Dul. Buah pikiran kami yang seharusnya membuat orang bertindak dan melakukan perlawanan, ternyata hanya menjadi antek kapitalisme yang selama ini kami lawan. Pemikiran kami ternyata lebih laris dalam bentuk buku, seminar, diskusi, dan kajian-kajian intensif lainnya. Jarang sekali kami menemukan kembali semangat perlawanan di mata buruh-buruh pabrik, petani-petani miskin, nelayan, warga miskin kota, dan lain sebagainya” Kang Marx terlihat lesu saat mengatakannya.
"Apalagi saat ini……uh….uh…….” kulihat dia terdiam sejenak dan mengambil nafas panjang.
“Percuma kamu mengkaji pemikiran-pemikiran kami. Kami malah merasa berdosa dengan buah pikiran kami sendiri. Sebab sekarang hanya menjadi sampah wacana. Tidak ada kulihat akasi konkret yang kau lakukan kau pelajari pemikiran-pemikiran kami, semuanya menjadi bulshit .…!” Kang Marx berkata dengan wajah yang memerah. Rambut-rambut tebal disekitar mukanya terlihat memerah menambah kesan seram di wajahnya.
“Wah, jangan terlalu cepat memberikan justifikasi Kang!” jawabku menyela.
“Kami sudah sering memberikan aksi konkret dengan melakukan aksi mogok makan, demonstrasi, dan aksi massa lainnya. Semua itu adalah bentuk aplikatif dari pemikiran-pemikiran njenengan semua”
“Lalu, apa yang kurang Kang?” aku masih belum mengerti apa yang maksud orang ini.
“Aku mau tanya sedikit, boleh kan?” kata Kang Marx.
“Hari ini, peristiwa apa yang terjadi di sekitar kamu?” Kang Marx bertanya.
Aku berfikir sejenak dan melayangkan pikiranku pada peristiwa yang terjadi hari ini di tempat kerjaku.” O…. iya Kang, hari ini salah satu temanku dipecat. Dia dipecat gara-gara mempertanyakan ulang gajinya yang disamakan dengan OB. Padahal kerjanya lebih berat”
“Apa itu OB?” Kang Marx menyela.
“ha…ha….ha….dasar Kang Marx, tahunya cuman buruh dan majikan, proletar dan borjuis, OB saja ndak tahu. OB itu kependekan dari Office Boy Kang. Ya….artinya sama saja dengan buruh, hanya bahasanya yang diperhalus”
“Temanku merasa keahliannya sebagai teknisi tidak dihargai sama sekali, dan hanya disamakan dengan OB yang tidak perlu skill khusus untuk mendapatkan perkerjaan tersebut. Dan gara-gara dia memprotes kebijakan personalia, seketika itu juga dia dipecat dari perusahaan” aku coba menjelaskan pada Kang Marx.
“Nah, itu yang kumaksud” Kang Marx seketika menyahut omonganku.
“Sekali pecundang tetap pecundang. Kamu tetap menjadi pecundang dan pengecut. Melihat penindasan yang terjadi disekitarmu hanya bisa diam. Pemecatan itu adalah bukti kogkret dari penindasan kaum borjuis pada proletar, lakukan sesuatu dong!” Kang Marx terlihat geram saat mengatakan ini.
“Darahku selalu mendidih jika melihat peristiwa sepeti itu. Seandainya aku masih hidup dalam dunia nyata dan mengalami kejadian tersebut, aku tidak akan tinggal diam seperti dirimu yang hanya bisa menjadi pecundang dan pengecut. Bajingan kau……” Marx mengumpat kencang di hadapanku.
“Sebenarnya, aku berharap banyak dari orang-orang yang secara intens mengkaji pemikiran-pemikiran kami, ternyata kalian hanya menjadikan hal itu sebagai alat olah raga otak. Berapa banyak buku yang dicetak, seminar yang digelar, dan diskusi yang diselenggarakan untuk mengupas pemikiran-pemikiran kami. Tapi hasilnya penindasan tetap saja terjadi di negeri ini, kesewenang-wenangan semakin nyata menampkan wajahnya tanpa malu-malu, lalu kemana spiorit pembebasan yang dulu kami usung….” Kang Marx semakin terlihat marah dengan menahan emosi di dadanya yang makin membara.
Mendengar hal itu, aku hanya bisa bersimpuh malu disudut sendu. Tak berani lagi aku menatap wajah mereka. Aku benar-benar merasa kalah dan salah. Aku merasa remuk dan terantuk kelu. Bibir gemetar, darah menjalar, dan degup jantung menderu semakin kencang.
“kalau tahu akan begini hasilnya, kami tidak akan pernah mau memikirkan bagaimana kesejahteraan buruh, pemerataan ekonomi, dan kesenjangan sosial terjadi. Kami lebih merasa berdosa ketimbang kamu, tahu ndak?” Kang Marx masih terlihat marah
Aku tak berani lagi menjawab kata-kata yang terus meluncur dari bibirnya. Rambut-rambut di sekitar wajahnya terlihat terangkat dan menambah kesan gahar pada Kang Marx. Oh Tuhan, apa yang harus kulakukan.
“Kau sekarang pasti berfikir Tuhan bukan?” seru Kang Marx yang tiba-tiba membuyarkan lamunanku.
Bagaimana dia tahu kalau aku memikirkan Tuhan. Pada saat-saat seperti ini aku sering memikirkan Tuhan untuk memberikan pertolongan dan membukakan jalan yang lapang untuk mengatasi setiap persoalan.
“Tuhan…..apa yang kau dapat dari-Nya? Makanya kubilang agama itu candu. Orang beragama selalu menyandarkan segala permasalahan dan penderitaannya kepada Tuhan, mereka terlalu sering menyerah kalah dengan keadaan. Bagaimana akan melakukan perlawanan jika selalu mendahulukan Tuhan dalam melihat persoalan?” Kata Kang Marx.
Hatiku semakin ciut, seakan-akan dia tahu segala gerak-gerik yang akan kulakukan. Bahkan apa yang tersimpan dalam pikiranku terbaca olehnya.
“Mulai sekarang, hentikan segala macam diskusi, seminar, dan kajian yang menkaji oemikiran kami. Sebab, hal itu hanya akan menambah dosa kami pada kemanusiaan” Marx memperkeras ucapannya sebagai tanda bahwa dia serius mengatakan hal ini.
“Pikirkan baik-baik perkataan saya tadi. Jangan sampai kami mendatangi dirimu untuk yang kedua kalinya hanya karena kau tidak mampu menyelesaikan persoalan seperti yang terjadi pada temanmu. Pengecut kau….”
Setelah mengatakan itu, seketika bayangan Marx dan kawan-kawanya telah pergi entah kemana. Keheningan segera menyelimuti batin dan jiwaku. Aku merasa makin kecil dihadapan realitas kemanusiaan yang ada di sekitarku.
Klaten, 21 Maret 2007
Untuk saudaraku Dedi Sukatrok; sorry Dab! Rantai penanda itu terlalu kuat mencengkeram diriku, hingga tak bisa berbuat apa-apa.
