Matinya Sang Fotografer
Matinya Sang Fotografer
Oleh : Zayyin Alfi Jihad
Pernahkah anda datang pada sebuah pameran foto? Jika pernah, pasti anda tidak asing lagi dengan keberadaan data teknis yang biasanya menyertai setiap foto yang dipamerkan. Dalam data teknis tersebut, biasanya dicantumkan nama kamera, bukaan difragma, kecepatan rana, film yang digunakan, dan tidak ketinggalan caption. Untuk apa sebenarnya data teknis tersebut disertakan? Apakah untuk membantu menikmati foto? Atau malah sebaliknya, menyederhanakan eksistensi foto tersebut?
Galibnya, data teknis tersebut digunakan oleh sang fotografer untuk membantu seseorang melihat proses munculnya sebuah foto. Audiens layak untuk tahu keberadaan-keberadaan data teknis yang digunakan untuk mengukur sejauhmana orisinalitas sang fotografer. Sebenarnya, ada yang tidak disadari oleh sang fotografer tentang data-data teknis tersebut. Fotografer sebenarnya hanya menjadi “buruh” dari medium-medium yang telah membawa pesannya sendiri-sendiri. Medium-medium tersebut adalah peralatan-peralatan teknis yang digunakan sang fotografer saat mengambil gambar.
Dalam dunia fotografi dikenal beberapa elemen yang harus digunakan untuk menghasilkan gambar yang mampu “berbicara” apa adanya. Beberapa elemen itu mampu memunculkan beragam karakter saat digunakan. Karakter inilah yang kemudian dinamakan sebagai pesan dalam medium. Peralatan teknis seperti jenis kamera, lensa, film, flash, filter, dan sebagainya memiliki pesannya sendiri-sendiri sebelum digunakan. Misalnya, dengan menggunakan lensa zoom 35-70mm, fotografer bisa menjangkau obyek foto tidak terlalu jauh namun ketajaman gambar yang dihasilkan cukup bagus. Akan tetapi, lensa ini akan mengalami reduksi jika digunakan untuk mengambil gambar dengan obyek yang luas atau lebar. Beda lagi dengan pengunaan lensa zoom tele 28-200mm. Lensa seperti ini biasa digunakan untuk mengambil gambar konser musik, road race, pemandangan alam, dan yang saat ini sedang ngetrend dalam dunia wedding fotografy adalah candid camera. Lensa ini juga digunakan untuk maksud-maksud hasil gambar tertentu. Belum lagi piranti-piranti lain yang biasa digunakan untuk menimbulkan efek, seperti halnya ukuran ASA, DN pada Flash, filter, soft box, dan yang lainnya. Semuanya berpengaruh terhadap gambar yang akan dihasilkan.
Tanpa disadari oleh sang fotografer, sebenarnya tiap-tiap medium tersebut membawa pesannya masing-masing. Lensa 28-200mm membawa pesan dengan memunculkan gambar yang lebih luas dan bisa menangkap gambar yang jauh, ASA memberikan efek terhadap kualitas gambar, bukaan difragma memberikan ruang cahaya yang masuk ke film, dan bukaan rana berpengaruh terhadap kecepatan tangkapan cahayanya.
Seorang fotografer hanya bisa memainkan pesan-pesan yang sudah ada pada setiap medium tersebut. Fotografer tidak pernah mampu membuat keputusannya sendiri untuk lepas dari setiap pesan yang dibawa medium-medium tersebut. Sehingga, kreativitas yang selama ini sering dibanggakan oleh dunia para fotografer sebenarnya hanyalah nama lain dari “buruh” untuk melayani pesan-pesan yang sudah menempel pada medium-medium tersebut. Pesan-pesan tersebut bisa dikatakan sebagai sebuah faktisitas dalam dunia fotografi.
Begitu juga dengan keberadaan caption (keterangan foto). Setiap caption yang diberikan oleh fotografer selalu menggunakan bahasa di dalamnya. Padahal bahasa sendiri mewakili pesan-pesan yang setia menempel dalam dirinya. Bahasa adalah konstruksi social. Penggunaan bahasa dalam keterangan foto akan mewakili di wilayah mana bahasa tersebut berdiri. Jadi, ketika membaca sebuah caption dalam sebingkai foto, jangan tergesa-gesa mengafirmasi makna caption tersebut. Gunakan asosiasi-asosiasi bebas terhadap setiap kata yang digunakan di dalamnya. Sebab, dengan memecah unit-unit dalam tata bahasa tersebut, kita akan bisa mengetahui rules yang berlaku dalam maknanya.
Misalnya, terdapat sebuah caption dalam bingkai foto yang tertulis “Lelaki Penantang Badai.” Dari caption seperti ini, kita bisa melakukan dua analisa terhadapnya. Pertama, menggunakan acuan sintagmatik, yaitu dengan mengurai struktur bahasa yang terdapat dalam kalimat tersebut. Kedua, menggunakan acuan paradigmatik, dengan mengurai makna-makna yang tersembunyi di balik setiap kata dalam struktur bahasa tersebut.
Dalam acuan sintagmatik, kalimat ini memiliki tiga unsur yaitu, Subyek: Lelaki, Predikat: Penantang, dan Obyek: Badai. Sedangkan dalam acuan paradigmatik, kita harus berusaha untuk memecah unit dari setiap kata tersebut untuk bisa menentukan aturan main yang berlaku di balik kata-kata. Sebab, hal ini akan membantu kita untuk mengurai kuasa bahasa yang berlaku di dalamnya. Misalnya, Lelaki; jantan, manusia, jenis kelamin, gender. Penantang; berani, menghalau. Badai; halangan, gelombang, aral.
Dengan unit yang telah terpecah, kita bisa menguraikan beberapa makna dari caption tersebut. Makna yang akan muncul selalu mewakili kelas di mana bahasa itu berdiri. Salah satu makna yang mungkin muncul adalah hanya lelaki dengan kekuatannya yang mampu menghadapi segala rintangan dan persoalan. Makna dari kalimat ini jelas telah menyiratkan sebuah kelas tersendiri dalam tatanan sosial, yaitu deskriminasi gender. Lelaki masih diartikan sebagai pemilik kekuatan mutlak dengan segala kelebihannya. Lagi-lagi, fotografer hanya menjadi “buruh” untuk melayani bahasa.
Setiap kata yang ada dan digunakan oleh fotografer telah terkonstruk oleh ritme sosial yang berkembang sebelumnya. Sang fotografer hanya mampu untuk menggunakannya tanpa bisa melakukan perlawanan atas kekuatan bahasa yang setiap kali selalu “memaksa” untuk digunakan dalam keseharian. Dengan kata lain, keinginan fotografer untuk menghasilkan foto yang kreatif dan bernilai seni tinggi, sebenarnya hanyalah representasi dari pesan-pesan yang telah ada pada medium-medium kamera dan bahasa yang digunakannya. Maka, amatlah layak jika dikatakan bahwa sang fotografer telah “mati” karena karyanya sendiri.
Klaten, 05 februari 2007
Zayyin Alfi Jihad, S. Fil.I.
Pecinta Fotografi dan Pengamat budaya pada CSAT (Center Of Social Analysis and Transformation) tinggal di Yogyakarta.
E-Mail : zayyinjihad@yahoo.com
Telp : 081 5795 3366
