KONVERSI RAMADAN
Konversi Ramadan
Kehadiran Ramadan disambut gegap-gempita oleh kalangan muslim. Beragam aktivitas digelar untuk menyambut datangnya bulan suci ini. Di beberapa daerah, beragam tradisi digelar, seperti pawai keliling kota, padusan (mandi sebagai ekspresi penyucian diri menyambut Ramadan), megengan (selamatan untuk menyambut Ramadan), bazar, dan perhelatan-perhelatan lain sebagai wujud suka cita menyambut datangnya Ramadan.
Tidak kalah meriahnya, televisi pun ikut menyemarakkan program-programnya dengan beragam acara yang bernuansa Ramadan. Acara ini ditayangkan mulai dari saat makan sahur hingga tiba waktu berbuka puasa. Tiba-tiba saja panggung televisi terasa sangat islami dan penuh warna religi.
Acara-acara yang ditampilkan di televisi dikemas seislami mungkin untuk menarik perhatian pemirsa. Sebagai negara yang mayoritas berpenduduk muslim, tak ayal lagi, strategi ini cukup ampuh untuk menaikkan rating dan perolehan iklan televisi di bulan Ramadan. Pemirsa diajak untuk menikmati suguhan televisi sebagai teman santai melewatkan lapar dan dahaga saat berpuasa.
Penayangan iklan pun seakan bernada seragam. Menjelang Ramadan tiba, muncullah beragam iklan yang bernuansakan puasa. Prime time pun dipenuhi dengan iklan-iklan yang dibalut dengan simbol-simbol Islam. Kerudung dan baju koko bertebaran di mana-mana. Ayat suci dan hadis pun sering berseliweran di televisi. Jika sebelumnya para artis terlihat janggal mengenakan kerudung dan baju koko di hari biasa, di bulan ini, artis-aris pemeran iklan pun seakan serentak menjadi muslim sejati dengan berkerudung dan berbaju koko. Sungguh indah citra Islam di panggung televisi. Seakan-akan negeri ini tidak pernah dilanda masalah saat Ramadan tiba. Persoalan konversi minyak tanah, lumpur Lapindo, renovasi gedung wakil rakyat, gempa, korupsi, kemiskinan, perda PKL, dan lainnya seakan-akan sirna dengan datangnya bulan Ramadan.
Beragam fenomena di atas menjadi hal yang wajar bagi kalangan muslim di negeri ini. Mereka (kalangan muslim) cenderung mengafirmasi perubahan iklim tersebut. Ramadan semakin marak dengan ajakan untuk berperilaku kosumtif. Walaupun harga sembako merangkak naik, tetap saja keinginan untuk berbelanja tidak pernah surut. Gegap-gempita iklan yang dibalut dengan nuansa Ramadan telah menyihir semua orang hingga beranggapan bahwa berbelanja adalah sebagian dari tradisi di bulan Ramadan. Alhasil, Ramadan telah dikonversi menjadi bulan yang penuh dengan aktivitas konsumtif, bukan ajakan untuk beribadah.
Ramadan dan Kemenangan Budaya Massa
Banyak pelaku pertelevisian yang membidik bulan Ramadan sebagai ajang pertaruhan. Di bulan ini, acara apa pun, asal yang berbau religius pasti akan ditonton pemirsa dan laku dijual. Lihat saja maraknya sinetron religius yang mulai tayang di bulan Ramadan. Tidak hanya itu, siaran live yang menemani pemirsa saat melakukan sahur dan buka puasa juga marak di setiap stasiun televisi. Alhasil, banyak artis yang tiba-tiba menjadi alim dan saleh pada bulan Ramadan. Padahal, sebelumnya mereka tidak segan-segan tampil buka-bukaan dan berakting syur di televisi. Setelah Ramadan, mereka kembali ke habitat semula, seakan-akan tidak ada tanggungjawab moral yang harus diselesaikan pasca Ramadan.
Hal ini juga terjadi pada fenomena dakwah di televisi. Saat Ramadan menjelang, ustaz-ustaz baru tumbuh subur meramaikan layar kaca. Bukan sembarang ustaz yang bisa tampil di layar kaca, para ustaz ini juga harus beramah-tamah dengan ikon budaya massa, seperti eye catching, gaul, tampan, dan komunikatif. Tidak segan-segan, para ustaz ini menyitir (walaupun secara implisit) beberapa ayat Al-Qur’an maupun hadis agar pemirsa tetap setia bersamanya. Dan tidak kalah pentingnya, di sela-sela acara dakwah ini juga (pastinya) diselingi iklan-iklan yang cukup banyak. Padahal, tidak jarang iklan-iklan tersebut juga menyeponsori acara-acara lain yang bisa dibilang jauh dari nilai-nilai Islami.
Drs. Henry Subiyakto, seorang pakar media dan komunikasi, mengatakan bahwa industri media massa di Indonesia selalu memanfaatkan setiap momen untuk mendorong produktivitas mereka, sehingga mendapatkan keuntungan tertentu, seperti halnya di bulan Ramadan.
Peselingkuhan budaya massa dengan simbol-simbol agama telah melahirkan sebuah genre baru yang mendapat pengaminan dari masyarakat luas. Mereka seakan-akan tidak mempermasalahkan produk apa pun masuk pada acara-acara televisi asal berbau Ramadan. Mereka (muslim) tidak pernah sadar bahwa para pengiklan tidak pernah berpikir isi acara, selama iklan mampu menunjang penjualan produk, maka cara apa pun akan ditempuh, termasuk menyeponsori program-program religi di bulan Ramadan.
Dampak dari budaya massa ini pun terlihat cukup signifikan. Semarak iklan telah memengaruhi masyarakat untuk berperilaku konsumtif yang belebihan di bulan Ramadan. Hal ini juga ditunjang dengan keberadaan produk dan toko-toko yang menggelar diskon besar-besaran di bulan Ramadan guna menarik pembeli.
Hal inilah yang kemudian disebut sebagai konversi. Layaknya konversi minyak tanah ke gas yang akhir-akhir ini ramai dibincangkan. Bedanya, jika konversi minyak tanah menuai berbagai macam resistensi dari masyarakat, tapi pada konversi Ramadan ini seakan-akan semua kalangan mengamininya. Tidak terlihat penolakan terhadapnya, malah sebaliknya, banyak yang merasa menikmati dan diuntungkan dengan adanya konversi tersebut.
Re-writing Ramadan
RamadanRamadan telah berjalan terlalu jauh dari batu alas pijakannya. Makna Ramadan telah sedemikian luas terfragmentasi karena pertautannya dengan budaya massa. Ramadan sekarang nampak hangar-bingar bukan karena spirit pembebasan yang dibawanya, melainkan karena ketercelupannya dengan dunia hiburan dan keriangannya bersama budaya massa. Nafas Ramadan yang membawa keberkahan dan keikhlasan pelakunya telah dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk meraup keuntungan sebanyak-banyaknya.
Ramadan adalah bulan suci di mana umat Islam seharusnya mempererat dirinya dengan kebaikan dan amal kebajikan bagi sesamanya. Menahan lapar dan dahaga tidak hanya dimaknai sebagai relitas fisik belaka. Namun, ada makna yang lebih dalam terkandung di dalamnya, yaitu menahan nafsu dari melakukan kejelekan dan kebiadaban, termasuk di dalamnya nafsu konsumtif.
Puasa adalah usaha untuk melepaskan diri dari relitas banal yang setiap hari dijalani. Puasa menjadi ajang distansiasi terhadap relitas yang jarang dimaknai secara mendalam. Karena banalitaslah yang telah menumpulkan daya kritis terhadap realitas yang setiap hari berpendar di sekitar kita. Banalitas itu bisa berupa makan, pekerjaan, ibadah, dan lain sebagainya. Dengan berpuasa, kita diajak untuk menggali sisi-sisi kemanusiaan dalam menghadapi krisis multidimensi yang dihadapi bangsa ini.
Ketika sudah terlalu lama bergumul dengan pembiasaan, kita tidak lagi bisa menangkap hal ganjil yang sebenarnya menjadi masalah. Pekerjaan telah membuat kita menjadi robot yang hanya mengikuti setiap alur detik yang bergerak dari jarum-jarum jam yang terus berputar. Makan membuat kita menjadi makhluk yang harus menuruti kebutuhan biologis semata, tanpa pernah bisa memaknai kembali makanan dalam sisi kepuasan rohaninya. Ibadah pun tidak jauh beda, ibadah hanya menjadi semacam ritual yang harus dilakukan tanpa pernah tahu makna tersembunyi di balik setiap ibadah yang dilakukan. Dimensi sosial kita pun terasa kering. Saat kebutuhan untuk memenuhi harkat hidup semakin mendesak, kita lupa bahwa sebagian dari harta yang kita miliki adalah milik orang-orang yang kurang mampu, dan itu wajib dibayarkan.
Puasa hadir untuk memecah kebekuan itu semua. Keberadaan puasa menjadi semacam godam untuk mengembalikan kesadaran umat muslim bahwa masih banyak tanggungjawab sosial yang harus diselesaikan. Tapi, bagaimana hal ini bisa terwujud jika Ramadan telah dikonversi menjadi perilaku konsumtif?
